TANGGAMUS, HD7.id — Memiliki tanah pemakaman yang tenang rupanya menjadi urusan yang teramat rumit di Pekon Soponyono, Kecamatan Wonosobo, Tanggamus, Lampung. Di saat raga warga belum tentu aman beristirahat, uang iuran swadaya justru sudah lebih dulu menguap entah ke mana, Jumat (4/9/2026).
Mesti usai drama penarikan dana tanpa kejelasan lokasi, kini giliran para pejabat pekon yang memperagakan aksi senyap, mendadak lenyap dan saling melempar bola panas.
Pintu Kantor Pekon Soponyono yang dibiayai dari uang keringat rakyat itu berdiri melompong. Tak ada aktivitas pelayan publik, tak ada tanda-tanda kehidupan pimpinan desa. Di tengah gedung yang dingin dan sepi bak pekarangan kuburan itu, hanya ada Kepala Urusan (Kaur) yang duduk menyendiri.
Saat ditanya kemana gerangan para pejabat yang lain menghilang, sang Kaur hanya menyuguhkan tatapan pasrah dengan alibi yang mengambang.
"Kepala pekon tidak masuk kerja. Cuma saya sendiri, yang lain juga tidak masuk Pak, mungkin punya kegiatan di luar," jelasnya pelan, Jumat (4/9).
Anehnya, saat disinggung mengenai panasnya isu tanah TPU yang meresahkan warga, sang Kaur mendadak bungkam. Tak berani memegang bola panas sendirian, ia memilih melempar nama Kepala Pekon dan Badan Himpunan Pekon (BHP) sebagai tempat bersembunyi.
Pewarta lantas mendatangi Ketua BHP Soponyono. Namun, lembaga yang seharusnya menjadi benteng pengawas dan penyambung lidah rakyat ini justru memilih mengunci mulut rapat-rapat. Ada aura ketakutan yang tercium jika harus berbicara tanpa restu sang Kepala Pekon.
"Jadi begini, kita kalau belum mendapat arahan dari Pak Kakon, kita tidak bisa memberikan informasi," ucap Ketua BHP berbelit-belit, sembari menawarkan janji manis untuk 'duduk bareng bersama kakon' di lain hari.
Namun, keheningan yang dibangun Ketua BHP seketika pecah oleh lentuman anggotanya sendiri. Bambang, anggota BHP yang ditemui terpisah di kediamannya, justru bernyanyi nyaring. Tanpa beban, ia meruntuhkan dongeng "tanah hibah" yang sebelumnya sempat digembar-gemborkan oleh Ketua Panitia.
Bambang menegaskan bahwa lahan tersebut murni dibeli, bahkan sudah menelan uang muka dari hasil perasan iuran warga.
"Kita sudah beli tanahnya, bersertifikat dari Ibu Siti Soleha orang Jakarta, istrinya lurah dulu. Soal pembayaran memang belum lunas karena ada warga yang iuran swadayanya belum lunas juga. Kalau nilainya saya kurang jelas, Kepala Pekon itu yang tahu," ungkap Bambang blak-blakan.
Rangkaian cerita ini kian memancarkan aroma tak sedap di Pekon Soponyono. Satu masalah, seribu versi jawaban. Panitia bilang hibah, Sekdes mengaku lupa, anggota BHP sebut beli dari orang Jakarta, sementara Sobri warga Sri Melati memegang bukti transaksi atas lahan yang sama dari penggarap terdahulu. Semua orang punya cerita, namun tak satu pun berani pasang badan.
Gedung kantor pekon yang kosong di tengah memanasnya isu uang rakyat ini seolah menjadi pesan dingin, ada hal besar yang sedang berusaha ditutupi rapat-rapat di balik tanah pemakaman tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan resmi dari Kepala Pekon Soponyono. Redaksi tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dan terus membuka ruang klarifikasi bagi semua pihak demi keberimbangan informasi. Kejelasan status tanah dan pengelolaan dana warga tetap ditunggu hingga terang benderang.
Dirgantara7//Roli.y

