Desa Pasir Jaya Dana Desa Banyak Banget Taransparansi-nya Malah "Hilang Terbaring"

 

TANGERANG, HD7.id – Desa Pasir Jaya Kecamatan Cikupa memang punya titel "Desa Mandiri", tapi siapa sangka "kemandirian"-nya sampai pada tingkat kebebasan mengelola anggaran yang bikin kita berpikir: "Eh, ini kanan aja ya?" Anggaran Dana Desa (ADD) periode 2024-2025 mereka kelola dengan gaya yang begitu "unik", bikin publik jadi bingung apakah ini laporan keuangan atau naskah film misteri yang belum selesai ditulis.

 

PENGERASAN GANG, YANG SEPERTI MAKANAN FAVORIT SELALU ADA DI MEJA!

 

Jika ada penghargaan untuk "Proyek yang Paling Suka Muncul", kegiatan "Rehabilitasi dan Pengerasan Permukiman/Gang" pasti menang tanpa kompetisi. Tahun 2025 saja udah realisasi belasan kali, mulai dari Rp 12 jutaan sampe Rp 58 jutaan per paket. 


Bikin penasaran deh, apakah gang di Pasir Jaya itu dari bahan kertas aja yang terus rusak? Atau mungkin setiap bulan ada acara "Festival Pengerasan Gang" yang harus selalu diadakan?

 

Yang lebih lucunya lagi mereka suka banget bikin "split paket" alias memecah proyek jadi kecil-kecil. Pasti dong bukan untuk menghindari pengawasan yang lebih ketat, kan? Mungkin mereka cuma mau "berbagi kebahagiaan" sama banyak kontraktor aja. 


So sweet ya! Begitu juga sama proyek drainase dan sanitasi tahun 2024 yang dibuat paket-paket kecil kayak kue kering semua rasanya sama, cuma dikasih kemasan beda aja.

 

POSYANDU SEHARGA RATUSAN JUTA APAKAH DISERVE MAKANAN BUAT RAJA?

 

Kalau proyek fisiknya udah bikin kepala pusing, tunggulah liat program non-fisiknya! Alokasi untuk Posyandu tahun 2025 mencapai Rp 162 juta dan Rp 115,5 juta angka yang bikin kita berpikir


"Wah, apakah anak-anak dan lansia di sana makan bubur dengan tambahan permata?" Belum lagi pengadaan sarana yang nyemplung sampe Rp 124 juta lebih.

 

Kita mau aja bayangin: mungkin setiap kunjungan Posyandu, pesertanya disuguhi makan malam ala hotel bintang lima? Atau kader Posyandu dapet insentif sama dengan gaji CEO perusahaan teknologi? Sayangnya tidak ada rincian sama sekali, jadi kita cuma bisa bayangin aja lebih asik kan daripada tahu yang sebenarnya yang mungkin bikin kita kesel?

 

Di sektor peternakan juga tidak kalah seru! Proyeknya nyemplung sampe Rp 147 juta lebih, tapi tidak ada satu pun informasi tentang berapa banyak hewan yang dibeli, kandangnya kayak apa, atau siapa yang jadi penerima manfaat. Mungkin hewan-hewan itu sudah punya KTP sendiri dan bisa mengurus dirinya sendiri, jadi tidak perlu dilaporkan deh.

 

APH, JANGAN CUMAN DITINGGALIN YA! PARA "PELAKON" MALAH SUKA MAIN "CUCI TANGAN"

 

Masyarakat dan para pegiat pengawasan udah mulai kesel dan menuntut audit forensik dari Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang. Bukan tanpa alasan dong pola yang ada tuh jelas-jelas kayak nonton sinetron "Misteri di Desa" yang episode-nya nggak pernah berakhir.

 

Yang bikin kita ngakak dan kesel bareng adalah sikap Kepala Desa dan Camat Cikupa yang jadi "ahli diam" sejak dugaan ini muncul. Padahal kita udah coba konfirmasi berkali-kali, mungkin mereka sedang sibuk "menulis skenario baru" atau cuma terlalu "sibuk" buat jawab pertanyaan yang jelas-jelas bakal bikin mereka keringat dingin?

 

Dana yang digunakan itu kan uang rakyat lho! bukan uang dari rekening pribadi yang bisa dibelanjain sesuka hati kayak beli es krim. Semoga saja APH cepet turun tangan sebelum Desa Pasir Jaya jadi contoh "Desa Mandiri yang Transparansi-nya Hilang Tanpa Jejak" di buku sejarah keuangan desa Indonesia. Kalau tidak, ya udah deh kita cuma bisa nonton aja drama yang satu ini dengan camilan kopi hangat.***

Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung terimakasih

Lebih baru Lebih lama
Hasil penelusuran

نموذج الاتصال