JAKARTA, HD7.id – Proyek pengadaan rak gondola untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) senilai Rp 695 miliar menjadi sorotan tajam. Proyek yang diduga memesan barang impor dari China dan India ini kini dilaporkan ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI usai diduga kuat dilakukan rekayasa harga dan proses yang tidak transparan.
Lembaga Swadaya Masyarakat Relawan Pro Nusantara (REPRONUSA) resmi membawa kasus ini ke BPK pada Selasa, 31 Maret 2026. Dalam laporannya, mereka menyoroti adanya indikasi pembengkakan harga (mark-up) yang tidak wajar serta dugaan persekongkolan dalam penunjukan vendor.
Diketahui, proyek megah ini dibagi ke dua perusahaan swasta, yakni PT Indoraya Multi Internasional senilai Rp 375 miliar dan PT Nagatama Septa Persada Rp 320 miliar. Proses pengadaan yang diduga tidak melalui tender terbuka ini memunculkan kecurigaan adanya rekayasa sejak tahap perencanaan.
Temuan paling mencolok terletak pada selisih harga per unit. Dalam dokumen kontrak, harga satu set rak gondola tercatat Rp 62,5 juta. Sementara itu, harga asli saat impor dari China diperkirakan hanya berkisar Rp 30 juta hingga Rp 35 juta per unit. Selisih harga yang mencapai hampir dua kali lipat ini dinilai sangat mencurigakan dan berpotensi merugikan keuangan negara.
“Ada selisih harga yang cukup signifikan. Hal ini perlu diaudit secara investigatif untuk memastikan ada atau tidaknya unsur kemahalan harga,” ujar perwakilan REPRONUSA.
Selain dugaan mark-up, laporan ini juga menyoroti pelanggaran potensial terhadap kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Diduga barang tersebut merupakan impor utuh yang hanya dilakukan pengemasan ulang di dalam negeri demi pencitraan produk lokal.
LSM ini juga meminta auditor menelusuri kemungkinan adanya aliran dana tidak wajar atau kickback kepada oknum pengambil keputusan. “Jika barang tersebut sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri, maka alasan impor harus dijelaskan secara terbuka karena proyek ini menggunakan anggaran negara,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, upaya meminta konfirmasi kepada manajemen PT Agrinas Pangan Nusantara maupun pihak vendor terkait belum membuahkan jawaban. Kesunyian ini semakin menambah tanda tanya besar di tengah publik yang menuntut transparansi penuh.
Tim-red

