TANGGAMUS HD7.id - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola Yayasan ASOOFAATI KALIANDA (ID: 4ZDQ7ZNP) di SPPG Teba, Kecamatan Kota Agung Timur (Kotim), mengakui telah mengurangi porsi menu bolu bantat yang diberikan kepada lebih dari 500 siswa.
Alasan kerusakan produk tidak mampu menjawab pertanyaan mendasar terkait kesesuaian alokasi anggaran dengan kualitas dan kuantitas pangan yang harus disalurkan kepada peserta didik.
Kepala SPPG yang diketahui bernama Ayu mengkonfirmasi kasus tersebut saat dihubungi melalui via WhatsApp pada Rabu (11/3/2026).
"Waalaikumussalam yaa ini memang dari SPPG saya. Kemarin sudah dijelaskan kepihak sekolah bahwa menu yang dibuat mengalami kerusakan (menu bolu bantat) sehingga porsi kecil sebanyak 500an pcs yang dibuat hanya mendapatkan satu bolu yang seharusnya mendapatkan dua bolu. Kami hanya bisa mengirim bolu yang layak konsumsi," katanya.
Sebelumnya, pada hari Selasa (10/3), telah muncul laporan mengenai temuan beberapa item menu MBG yang tidak sesuai dengan standar kuantitas dan kualitas yang seharusnya disediakan sesuai dengan anggaran yang dialokasikan. Hal tersebut membuat pengawasan terhadap penyelenggaraan program pangan siswa di wilayah ini menjadi semakin krusial.
Untuk mendukung penjelasannya, Ayu menayangkan rekaman visual yang disebut sebagai bukti kondisi bolu yang tidak layak dikonsumsi.
"Ini bukti bolu yang rusak dan tidak bisa dibagikan. Kami dari pihak SPPG juga harus rasional dan mengirimkan makanan yang memang layak konsumsi, tidak bisa sembarangan mendistribusikan menu yang kami buat," tegasnya.
Ia menyebutkan, tuntutan untuk membuat menu olahan secara mandiri, bukan membeli dari pihak ketiga, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan risiko kerusakan produk.
Namun, argumen tersebut tidak menjawab mengapa tidak ada langkah antisipasi atau mekanisme pengendalian kualitas yang memadai untuk menghindari kerugian yang berdampak langsung pada porsi makan siswa dan kemudian seolah sembarangan sehingga menjadi keluhan wali murid dan berbagai pihak
Pertanyaan Anggaran Tak Dapat Jawaban yang Jelas
Ketika ditanya mengenai rincian alokasi anggaran, proses perhitungan biaya per porsi, serta apakah pengurangan porsi tersebut sejalan dengan jumlah anggaran yang telah dialokasikan, Ayu tidak memberikan klarifikasi yang memadai.
"Kedapur aja pak kalau mau wawancara. Saya males ngetik pak," ucapnya dengan dalih yang tidak menyentuh inti pertanyaan.
Hal ini menjadi titik krusial mengingat pangan siswa merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan dengan transparansi tinggi. Pengurangan porsi tanpa penjelasan rinci terkait penggunaan anggaran berpotensi menimbulkan keraguan apakah dana yang disediakan telah digunakan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan gizi dan jumlah porsi yang telah ditetapkan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak sekolah atau dinas terkait yang membahas evaluasi proses produksi SPPG serta sinkronisasi antara anggaran yang dialokasikan dengan pelayanan yang diberikan kepada siswa.
Dirgantara7//*


