SERANG, HD7.id – Ada aroma tak sedap yang lagi ngehits di tata kelola aset sitaan negara wilayah Banten nih gan! Bukan bau ikan busuk atau sampah kumuh, tapi bau dugaan skandal penggelapan yang nilai nya bikin mata melotot 300 ton timah hitam hilang begitu aja, ditambah PNBP Rp19 miliar hasil lelang kapal yang malah "liburan panjang" di rekening bank. Semua ini jadi tanggung jawab Kejari Serang, lho!
Begini ceritanya, dulu ada kapal patah yang dianggap cuma "limbah besi". Nah, pada Januari 2025, KPKNL Banten gelarin lelang, dan pemenangnya adalah Rositha Yulyanthi. Biasa aja sih, kira-kira bakal dipotong-potong jadi besi bekas. TAPI TADAAAAA! Saat proses pemotongan, ternyata di lambung kapal ada "harta karun" yang bikin mata melotot 300 ton timah hitam yang nilainya gede banget, tapi MALAH TIDAK TERCATAT DI DAFTAR LELANG! Kayaknya orang yang bikin risalahnya lupa beli "kacamata pembesar" atau sengaja "tidak melihat" aja deh.
Alih-alih langsung dikasih label "MILIK NEGARA, JANGAN DIAMBIL MAINAN!", timah tersebut malah kabur dari pengawasan seperti pesulap yang suka main sulap benda hilang.
Kabar dari lapangan bilang, setelah pihak pemenang yang baik hati banget melapor temuan ini, aktivitas pemotongan langsung di-STOP sepihak oleh oknum tertentu seolah mereka udah tahu dari awal ada "cemilan" yang enak ini. Nah, timahnya? Diduga langsung dikirim ke pasar gelap, kayak makanan yang harus cepat dimakan sebelum ketahuan orang tua!
RP19 MILYAR "DIPARKIR" SEPERTI MOBIL MEWA DI GARASI NEGARA DIBIARIN KEMARIN SORE AJA!
Bukan cuma timahnya yang ngelakuin "pergi tanpa kabar", Uang kemenangan lelang sebesar Rp19 miliar yang seharusnya cepet-cepet masuk kas negara sebagai PNBP, ternyata masih nyaman-nyaman aja di rekening Bank BSI sampe Desember 2025. Udah setahun lamanya gan! Seolah uang itu adalah boneka koleksi yang cuma boleh dilihat aja, nggak boleh dimainin atau dipake buat hal yang penting.
Dana ini diduga sengaja "dibiarin mengendap", jadinya negara bisa nangis sendiri deh kehilangan timah mahal aja belum cukup, uang lelangnya juga nggak bisa dipake buat bantu pembangunan atau bantu rakyat yang kesusahan. Kayaknya negara lagi main game yang aturannya selalu kalah terus!
• Dugaan Penggelapan: Hilangnya 300 ton timah dari bawah mata aparat bukan cuma "kelalaian kecil" kayak lupa kunci pintu rumah. Ini jelas mengarah ke dugaan penggelapan yang sistematis seolah ada skenario yang udah dibuat sama-sama, kayak nge-planning acara ulang tahun aja tapi tujuan nya malah cari untung sendiri!
• Indikasi Keterlibatan Oknum: Penyetoran PNBP macet selama 12 bulan bikin kita mikir: "Eh, apa mereka lupa ya kalau uang itu bukan milik pribadi?" Pasti ada oknum di Kejari Serang atau Kejati Banten yang ikut campur tangan, kayak orang yang suka ikut campur urusan orang lain yang nggak ada hubungannya!
• Kerugian Berlipat: Negara jadi korban dua kali lipat kehilangan komoditas mahal dan juga uang yang bisa dipake buat hal penting. Seolah kita lagi belanja di pasar tapi barang yang dibeli dicuri di depan mata, terus uangnya juga diambil sama orang lain!
SATGAS MERAH PUTIH DICARI NYALINYA, APAKAH MAU TERJAWAB ATAU MALAH "NYEREMIN" MASRAHIN?
Skandal ini sekarang jadi ujian buat Presiden Prabowo Subianto dan Satgas Merah Putih yang dikasih tugas khusus jaga aset negara. Publik udah siap-siap nungguin tindakan tegas buat membongkar mafia aset yang diduga seneng main-main di balik jubah penegak hukum seolah mereka punya "kartu bebas ngambil apa aja" dari negara!
Tapi sayangnya, sampe berita ini diterbitkan Rabu (7/1/2026) ya, kami benerin tanggal biar nggak salah waktu), Kejagung RI masih aja diam kayak patung! Seolah mereka lagi "liburan tanpa izin" atau memang udah tahu tapi takut buat ngambil langkah.
"Ini bukan cuma urusan besi bekas yang nggak penting, tapi ini kayak di-robek dompet di depan mata semua orang!" tegas sumber investigasi yang namanya belum bisa disebut.
Kalau kasus ini nggak segera diusut dengan serius, maka ini bakal jadi contoh buruk banget tentang penegakan hukum di era pemerintahan baru seolah kita nggak punya hati nurani sama sekali buat melindungi kekayaan yang kita punya bareng-bareng!
(Red)

